SOSOK.CO.ID - Eva Agustina Rahma, mahasiswa dari Bandar Lampung, mencatat sejarah sebagai wisudawan tercepat di Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) dalam Program Diploma dan Sarjana 2024/2025.
Eva, dengan IPK 3.87 dan durasi studi hanya 3 tahun 1 bulan 16 hari, menunjukkan bahwa latar belakang sederhana tidak menghalanginya untuk melakukan prestasi yang luar biasa.
Eva menghadapi banyak tantangan selama kuliah, terutama transisi dari era New Normal setelah pandemi COVID-19.
“Adaptasi dengan kuliah hybrid sangat sulit di awal. Kadang sulit fokus saat kuliah via Zoom, tapi saya selalu mengulas materi setelahnya,” kata Eva.
Berhasil menyelesaikan kuliah dalam waktu singkat ia wujudkan berkat ketekunan dan disiplin.
"Saya percaya bahwa usaha yang sungguh-sungguh dan disiplin akan membawa hasil maksimal," kata Eva, yang juga menggunakan pendekatan belajar yang terencana, seperti memilih tema karya ilmiah yang dia sukai dan mengatur waktu dengan baik.
Eva menerima gelar cumlaude untuk tugas akhirnya, artikel ilmiah berjudul "Self-Esteem of Students and Its Influence on Speaking Ability at Secondary Schools in Lampung", yang diindeks DOAj dan Sinta 4 di Indonesian Journal of Educational Development.
"Alhamdulillah dengan didukung pembimbing yang baik dan kompeten, saya merasa sangat terbantu untuk menghasilkan karya ilmiah ini," katanya.
Eva tidak hanya berprestasi di sekolah, tetapi dia juga aktif dalam berbagai organisasi.
Pada tahun 2023/2024, dia menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (HIMA PBI) dan Sekretaris Umum Ikatan Beasiswa Teknokrat (Ibatek).
Eva memiliki pengalaman mengajar pertama yang sangat berkesan di program PPL di SMAN 1 Kalianda.
Dia juga berpartisipasi dalam program pengabdian masyarakat (PkM DRTPM Kemdikbudristek) di Desa Negara Batin, Way Kanan.
BACA JUGA: Ade Utami Ibnu Ingatkan Pemudik Lebaran 2026 Utamakan Keselamatan dan Perjalanan Terencana
Eva merasa tersentuh melihat antusiasme masyarakat saat dia mengajar pelatihan pemanfaatan AI Translation.
Eva pun mengaku ingin menjadi guru setelah lulus.
“Ibu adalah motivasi terbesar saya, dan saya ingin menjadi guru profesional untuk memberikan dampak positif,” katanya dengan semangat.
Eva selalu menemukan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan akademiknya; ia berolahraga secara rutin, berpartisipasi dalam aktivitas spiritual, dan meluangkan waktu bersama teman dan keluarga.
“Fokuslah pada diri sendiri dan jangan membandingkan pencapaian dengan orang lain. Jalanmu adalah milikmu sendiri, jalani dengan konsisten dan percaya pada proses,” pesan Eva kepada siswa lain.